<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Another Dust in the Wind</title>
	<atom:link href="http://antonharyadi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://antonharyadi.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 May 2011 22:28:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='antonharyadi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Another Dust in the Wind</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://antonharyadi.wordpress.com/osd.xml" title="Another Dust in the Wind" />
	<atom:link rel='hub' href='http://antonharyadi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menulis</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com/2011/05/18/menulis/</link>
		<comments>http://antonharyadi.wordpress.com/2011/05/18/menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 22:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonharyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonharyadi.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Aku ingin kembali menulis dengan indah, seperti dulu saat aku jatuh cinta. Merangkai kata dengan senyum merekah. Jantung pun berdebar tak karuan. Aku ingin kembali menulis dengan sedih, seperti dulu saat aku patah. Merangkai kata dengan tangis berjatuhan. Hidupku seakan berhenti dan tak mungkin dilanjutkan. Aku ingin menulis dengan damai, seperti dulu saat aku sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=57&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku ingin kembali menulis dengan indah, seperti dulu saat aku jatuh cinta. Merangkai kata dengan senyum merekah. Jantung pun berdebar tak karuan.</p>
<p>Aku ingin kembali menulis dengan sedih, seperti dulu saat aku patah. Merangkai kata dengan tangis berjatuhan. Hidupku seakan berhenti dan tak mungkin dilanjutkan.</p>
<p>Aku ingin menulis dengan damai, seperti dulu saat aku sudah menerima keadaan. Mensyukuri malam yang membuatku lupa akan pedihnya siang. Mensyukuri pagi yang membawa harapan.</p>
<p>Aku ingin menulis dengan keras, seperti dulu saat aku bergulat menggapai mimpi. Merajut kata-kata penyemangat, dan melupakan perihnya luka menganga. Mengobarkan semangat yang hampir padam.</p>
<p>Aku ingin menulis dengan hati, seperti dulu saat aku dimabuk dia. Menghapusnya tapi tak bisa. Mengingatnya tapi membuatku sakit tak terkira.</p>
<p>Aku hanya ingin menulis kata-kata, karena kata-kata pernah buatku bahagia. Bisakah aku memulainya kembali??</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonharyadi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonharyadi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonharyadi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonharyadi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonharyadi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonharyadi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonharyadi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonharyadi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonharyadi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonharyadi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonharyadi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonharyadi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonharyadi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonharyadi.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=57&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonharyadi.wordpress.com/2011/05/18/menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e56dce76ff01ec559ab21952e98cd85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonharyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>A TRIBUTE TO A FRIEND OF MINE</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/09/02/a-tribute-to-a-friend-of-mine/</link>
		<comments>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/09/02/a-tribute-to-a-friend-of-mine/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 14:26:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonharyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah teman-temanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonharyadi.wordpress.com/2009/09/02/a-tribute-to-a-friend-of-mine/</guid>
		<description><![CDATA[Jika di dunia ini ada orang yang sangat fanatik dengan barang-barang yang dia miliki dan tidak ingin dia lepas sampai mati, itulah teman saya itu. Yang sebenarnya tipikal orang yang tidak akan ganti HP kecuali HP-nya hilang atau rusak gara-gara kecemplung air saat sedang wudlu. Apa di pikiran Anda HP-nya adalah jenis jadul yang satu warna? Yang hanya bisa melantunkan satu jenis nada, yang ketika didengar ayam, si ayam akan menutup telinga? Yang warnanya sudah luntur gara-gara usang dimakan usia?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=54&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saya sudah lama sekali meninggalkan kebiasaan baik untuk selalu menulis. Setidaknya dalam sebulan atau seminggu sekali. Saya tidak tahu, mengapa menulis yang dulu serasa mengasyikkan sekali tiba-tiba menjadi sangat menjemukan. Saya cari alasannya. Dan tidak ketemu juga. Bahkan sampai sekarang belum ketemu. Dan itulah alasannya kira-kira saya tidak kembali menulis. Karena saya sudah tidak punya alasan menulis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sampai beberapa waktu lalu, saya bernadzar bahwa saya akan menulis jika teman saya membeli HP baru. Dan benar dia beli. Bagian saya yang harus menulis di blog sebagai nadzar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Jika di dunia ini ada orang yang sangat fanatik dengan barang-barang yang dia miliki dan tidak ingin dia lepas sampai mati, itulah teman saya itu. Yang sebenarnya tipikal orang yang tidak akan ganti HP kecuali HP-nya hilang atau rusak gara-gara kecemplung air saat sedang wudlu. Apa di pikiran Anda HP-nya adalah jenis jadul yang satu warna? Yang hanya bisa melantunkan satu jenis nada, yang ketika didengar ayam, si ayam akan menutup telinga? Yang warnanya sudah luntur gara-gara usang dimakan usia? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Anda benar. 100 untuk Anda. Setidaknya Anda lebih pintar dari anak SD sekarang. You’re smarter than the 5<sup>th</sup> grader. Wah dapet seratus juta ini <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Anak SD sekarang mungkin tidak tahu jika ternyata HP itu berevolusi. Ada HP zaman pra-sejarah. HP zaman batu. HP zaman audio video yang sudah super canggihnya. Bahkan ada HP yang sudah hapal peta jalan, bahkan yang belum di aspal sekalipun. HP teman saya itu termasuk HP jenis pertama, HP zaman pra-sejarah. Ketika itu kapak dari batu pun belum ditemukan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“Lebay” kata ini pasti disampaikan teman saya itu saat dia membaca tulisan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sebagai napak tilas, sesuai dengan pesan bung Karno yaitu Jas merah-–jangan sekali-kali melupakan sejarah—atau sebagai pengingat akan pesan Buya Syafi’i Maarif bahwa kita tidak boleh amnesia sejarah, saya mau menjelaskan HP-nya yang masuk zaman pra-sejarah itu. Saya jelaskan karena mungkin sudah tidak ada lagi situs web yagn menjelaskan perihal HP pra-sejarah itu. HP-nya sebenarnya berwarna, orange dan hitam. Orange adalah warna latar dan hitam adalah warna teksnya. Upps lupa. Ada satu warna lagi, warna gelap saat HP dimatikan atau saat sedang lowbat <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Tahu sendirilah HP segitu baterainya tahan seberapa lama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kelengkapannya, ada speaker internal untuk fungsi berbicara, dan keypad untuk fungsi ngirim SMS. Bluetooth dan infrared? Apaan itu? Apalagi EDGE. Apalagi GPS. HP jenis ini bisa dibilang generasi basic phoners. HP dirancang tahan, tahan cuaca, tahan banting dan tahan malu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">HP ini sebenarnya memiliki banyak manfaat. Pertama, dia tidak memerlukan case, entah itu silicon case, leather case atau case yang lain. Paling dia hanya perlu ngumpet di briefcase, setidaknya suaranya tidak kedengaran pas ada SMS masuk. Jadi bisa kebayang kan bagaimana HP jenis ini mengurangi limbah akibat aksesori HP yang terbuang gara-gara penggunanya sudah bosan, atau penggunanya ingin ganti case.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kedua, HP ini, secara asalinya (default bahasa Inggrisnya), adalah sejenis HP yang dirancang untuk keamanan penggunanya. Keamanan dari pencopet yang senangnya mencuri HP baru. Jarang ada pencopet mencuri HP jadul. Kalo masih ada, keterlaluan. Keamanan dari preman yang selalu mengincar orang berduit yang biasanya terlihat status sosialnya dari HP yang dibawanya. Keamanan dari kecanduan memainkan fitur-fitur terbaru. Keamanan dari rasa sombong yang membuat manusia mencuri selendang Allah. Masih ingat kan pelajaran agama dulu, sombong berarti mencuri selendang Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ketiga, HP ini juga tidak perlu banyak perawatan. Jenis HP jadul biasanya dibanting pun tidak akan rusak, selama masih di kasur <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). Maksud saya, entah kenapa jenis HP ini lebih tahan lama dari HP baru. Kalo tidak percaya, cobalah sekali-kali Anda buka koran atau majalah, hampir tidak ada orang yang mengeluhkan kerusakan HP-HP jenis lama. Dugaan saya, HP lama memang lebih tahan lama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Itulah beberapa manfaat dan keuntungan memiliki HP lama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sayangnya HP jenis ini sering membuat si empunya merasa kurang percaya diri, mungkin karena sering digodai temannya ya. Atau menderita kompleks apriori. Masak ringtone temannya sudah menyanyi dengan merdunya, entah itu lagunya Afgan yang ada sadis-sadisnya itu, atau lagunya Cinta Laura yang bagi beberapa orang sangat meresap ke dalam hati, terutama hati teman saya yang dulu punya HP jadul itu tetapi sekarang sudah menggunakan HP yang layarnya bisa dipencet, atau lagu terpopuler orang yang mabuk perjalanan sehingga lebih senang digendong itu, sementara HP jenis lama ini hanya bisa mendendangkan dua syair yang tidak ada nadanya. Tidak ada notnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">HP lama teman saya itu adalah HP yang pabriknya sudah tutup, Sie***s A &#8211; saya lupa jenisnya. Saking sudah lamanya HP itu beredar. HP barunya adalah Sam***g S**r. Hebat kan. Teman saya itu yang hebat, dia bisa melakukan quantum leap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“Quantum leap itu apa ya maksudnya?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">“Makanya, baca wikipedia” sergah teman saya sambil menyodorkan HP barunya. Dan kini bagian HP saya yang ketinggalan zaman <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonharyadi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonharyadi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonharyadi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonharyadi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonharyadi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonharyadi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonharyadi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonharyadi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonharyadi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonharyadi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonharyadi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonharyadi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonharyadi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonharyadi.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=54&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/09/02/a-tribute-to-a-friend-of-mine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e56dce76ff01ec559ab21952e98cd85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonharyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Itu Menyembuhkan</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/17/cinta-itu-menyembuhkan/</link>
		<comments>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/17/cinta-itu-menyembuhkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 02:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonharyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah teman-temanku]]></category>
		<category><![CDATA[gadis]]></category>
		<category><![CDATA[personality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonharyadi.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Setelah membaca posting saya beberapa hari lalu tentang Gadis Cemara Rupa-Rupa yang Rapuh, teman saya masih berusaha menyadari dan memahami bahwa dirinya mengalami gejala pecah kepribadian, yang kemudian berakibat munculnya beberapa kepribadian (multiple personalities). Ia bercerita secara jujur setelah beberapa lama menutupi cerita itu. Banyak kepribadian yang bersemayam di dalam dirinya, yang kadang tidak bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=48&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Setelah membaca posting saya beberapa hari lalu tentang Gadis Cemara Rupa-Rupa yang Rapuh, teman saya masih berusaha menyadari dan memahami bahwa dirinya mengalami gejala pecah kepribadian, yang kemudian berakibat munculnya beberapa kepribadian (<em>multiple personalities</em>).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ia bercerita secara jujur setelah beberapa lama menutupi cerita itu. Banyak kepribadian yang bersemayam di dalam dirinya, yang kadang tidak bisa dia sadari dan<span> </span>dia pahami mengapa ia bisa seperti itu. Kadang dia melakukan sesuatu yang tidak dia sadari sepenuhnya. Ia melakukannya begitu saja.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Memiliki berbagai kepribadian dalam satu tubuh adalah semacam mekanisme pertahanan diri. Mekanisme pertahanan diri ini muncul sebagai reaksi atas sebuah kejadian yang traumatis, yang selalu melekat di dalam pikiran, yang tidak bisa dihapus dan selalu muncul pada suatu waktu tanpa disadari. Dia pun bercerita, dia punya trauma masa kecil, yang tak banyak orang yang tahu, bahkan sahabat dan semua orang di dekatnya. Pengalaman ini rupanya sangat kuat, sangat mencengkeram alam bawah sadarnya, dan merubuhkannya kadang-kadang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sebenarnya, rahasia ini adalah kunci yang bisa menyembuhkan dirinya. Rahasia ini harus diungkap dan harus dikunjungi ulang agar gambaran utuh bisa didapatkan sehingga tritmen lanjutan bisa diambil untuk memastikan kepribadiannya menyatu dalam satu tubuh. Gambaran ini kemudian dapat dijadikan titik awal utama yang bisa dijadikan patokan analisis kekacauan kepribadian yang menurut pengakuannya baru dia sadari ketika dia membaca posting saya kemarin.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Namun, entah mengapa dia masih saja mengelak, kadang, bahwa dia memang mengalami gejala kekacauan kepribadian. Saya tunjukkan, misalnya dengan menanyakan pernahkah dia merasa cemas dan takut tanpa diketahui sebabnya atau pernahkah dia merasa mengalami peralihan emosi dengan begitu cepat tanpa dia sadari dan pahami apa yang terjadi dan apa penyebabnya. Dia menunjukkan semua gejala itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tentang alter ego (ego yang tercipta karena mekanisme perlindungan diri) atau aster ego (ego yang tercipta karena dia punya idola yang dia impikan untuk menjadi), dia mengaku tidak punya. Mudah-mudahan itu benar. Tapi alter dan aster ego tidak bisa dideteksi dari pengakuan orang bersangkutan, karena bisa saja dia melindungi alter dan asternya karena merasa hidup keduanya terancam. Jika aster dan alternya<span> </span>memang ada, tapi tidak disadarinya, itu akan sangat berbahaya. Apalagi jika dia mengalami gejala ketakutan dan neurosis akut, bisa jadi dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Meskipun jauh dan tidak perlu dikaitkan, kita masih ingat kisah Ryan, yang lebih dikenal sebagai jagal dari Jombang. Pada suatu dia bercerita ketika melakukan pembunuhan di Margonda Depok dia melakukannya karena merasakan kecemburuan yang sangat akut terhadap si korban yang menurut Ryan hendak merebut kekasihnya, Noval. Bisa jadi, meski pernyataan ini tidak bisa dibuktikan tingkat keilmiahannya, ada kepribadian lain di diri Ryan yang merasakan kehidupannya terancam setelah si korban mendekati kekasih Ryan atau si Noval itu. Dengan kata lain, bisa jadi bukan Ryan yang melakukan pembunuhan berantai itu, mengingat Ryan juga seorang guru ngaji, tetapi kepribadian lainnya. Kemungkinan ini bisa saja, meski kemungkinannya sangat kecil sekali. <em>Kok jadi kayak kriminologis ya? Atau apa kriminal?</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tapi satu hal yang melegakan saya sebagai temannya, dia tidak pernah melakukan hal berbahaya, baik ke luar dirinya atau ke dirinya sendiri. Setelah sesi curhat, kami sama-sama memutuskan sesuatu. Pembicaraan ini tidak akan dilanjutkan mengingat bisa jadi mengukir trauma yang lebih mendalam dan merusak. Juga, selain menunjukkan kepadanya tentang gejala itu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Terlibat lebih dalam pada pembicaraan menguak jiwa kadang sangat merepotkan, dan membuat ketagihan pada saat bersamaan. Juga ada risiko transferensi (hubungan lain yang mendalam yang akan terukir pada kedua orang bersangkutan. Atau bahasa gaulnya, jatuh cinta karena sering curhat).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Setelah posting kemarin, saya sudah tidak bisa memberikan penjelasan lagi tentang kondisinya. Tapi dia berjanji akan memberi tahu seandainya dia sudah bisa mengatasi semuanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ada satu hal lagi yang membuat saya sedikit cemas, sampai sekarang dia masih teringat (dan dalam beberapa hal masih mencintai dan mengharapkan) kekasihnya yang dulu, yang dianggapnya sebagai belahan jiwanya, yang dicintainya tanpa harus ada alasan, yang disayanginya tanpa perlu tahu apa latar belakangnya, yang menjadi pangeran dalam mimpi yang dia rajut). Padahal beberapa bulan lalu, dia sudah punya orang lain, yang entah kenapa dia terima. Mungkin dia butuh pelindung. Mungkin dia butuh orang yang menyayangi dan mencintainya, meski dia harus kehilangan dirinya sendiri. Segurat jalinan cinta ini sebenarnya tidak baik, karena sebenarnya dia mencintai dirinya sendiri, bukan mencintai orang itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dalam kesimpulan pembicaraan terakhir kami, dia mengatakan akan berusaha mencintai orang itu. Kemarin, dia bercerita dengan sangat bahagia tentang pasangannya itu dengan sangat gembira. Sepertinya dia bangga dan bahagia. Dia mulai mencintainya, dan mulai mengungkapkan semua yang dia simpan untuk sekian lama. Kelegaan luar biasa setelah menceritakan semuanya, curhatnya kemudian.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Mungkin mencintai dengan sebenarnya, ucapnya penuh bahagia, bukan cinta yang kau rasakan, tapi cinta yang kau usahakan. Saat kau berusaha mencintai seseorang dengan setulusnya, memberikan yang terbaik yang bisa kau berikan, berusaha sekuat-kuatnya, dan mempercayainya, cinta itu mungkin bisa menyembuhkan. Ya, cinta memang bisa menyembuhkan, simpulnya dengan senyum penuh keyakinan. Mungkin memang benar yang diucapkannya, cinta itu menyembuhkan (<em>love heals</em>).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonharyadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonharyadi.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonharyadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonharyadi.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonharyadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonharyadi.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonharyadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonharyadi.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonharyadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonharyadi.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonharyadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonharyadi.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonharyadi.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonharyadi.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=48&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/17/cinta-itu-menyembuhkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e56dce76ff01ec559ab21952e98cd85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonharyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Vs Mertuaku</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/12/aku-vs-mertuaku/</link>
		<comments>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/12/aku-vs-mertuaku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 13:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonharyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah cintaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonharyadi.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba secara tak terduga, awan tiba-tiba menggumpal. Entah kenapa seperti semua suasana mengikuti suasana hatiku. Bahkan becak yang berlalu lalang entah kemana tampak seperti truk fuso yang dikendarai orang gendut dengan handuk pengusap peluh di leher yang hobinya membawa penumpang dari warung-warung remang-remang.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=45&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Tepat dua tahun lalu lebih beberapa bulan lalu, aku melamar pacar untuk dijadikan istri. Untuk melamar, mengingat satu dan banyak hal, aku harus berangkat sendiri bersama si dia. Sebab, kami kuliah di kota yang sama. Kampus yang sama. Jurusan yang sama. Dan kelasnya pun sama. Alah. Ternyata, aku cinlok kawan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Keberanian ku pupuk dari perjalanan Malang – Ngawi yang naik turun gunung melalui Batu, menyusuri panasnya Jombang, menembus Kertosono, Madiun, lalu Ngawi. Dan tak usahlah kau bayangkan betapa lamanya aku naik sepeda motor, karena cepat sekali ternyata. Relativitas waktu memainkan peranan yang tidak adil. Saat kita mengalami ketakutan, ketakutan kita membuat tiba lebih cepat dari bayangan sadar kita. Itulah yang terjadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Tak dinyana, bis yang paling ditakuti, Sumber Kenxxxx, berseliweran tanpa sedikit kutakuti. Tampaknya saat itu, setan-setan pencipta ketakutan sedang berkumpul dan berdiskusi untuk menjatuhkanku. Truk-truk besar yang seakan mau memakan manusia kembang kempis seperti aku ini tak kelihatan batang hidungnya. Apa mungkin makhluk besi rakitan manusia yang jika menabrak tanpa ampun itu juga kalah dengan ketakutanku?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Dan tak lama berselang, calon mertuaku datang. Bersalaman dan duduk.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“<em>Jenengan pundi dalem me pun mas?</em>” sapanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Mati aku. Empat tahun di Malang tidak melatih kemampuan mendengarku dalam bahasa Jawa. Dan seperti yang aku ingat dalam ilmu komunikasi paling canggih di dunia tentang <em>cross-cultural communication</em>, ada satu cara menangani ketidakmampuan kita dalam merespons suatu bahasa tertentu. Itulah bahasa universal yang dipahami oleh semua orang. Kecuali orang gila. Orang mabuk. Dan orang mau melamar gadis yang sudah dia inginkan untuk dijadikan pendamping hidup. Cara itu adalah <em>hihihi</em> tersenyum <span style="font-family:Wingdings;"><span>J</span></span>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Untung, si dia berbaik hati memberi tahu ayahnya bahwa aku ini adalah orang Jawa <em>indigenous</em>, yang tersesat dalam konstelasi dan pengaburan identitas dalam tradisi post-kolonialisme yang rumit itu, yang oleh temanku disebut ras minoritas yang berupaya menjadi <em>recognizable other</em> dalam budaya mainstream Jawa, yang mengalami pewacanaan yang tidak adil dari budaya mainstream itu sebagai orang yang berwatak keras dan tak kenal kompromi, sukanya carok dan nanam tembakau. Singkatnya, aku orang Jawa secara geografis-politis, tapi Madura secara antropologis. Intinya, orang Jawa yang berbahasa Madura itulah aku. Bingung, aku juga, kadang aku nggak tahu apa yang kutulis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span> </span>Dalam pertemuan pertama itu, tak ada yang bisa diandalkan. Mari diurut dari segi pakaian. Baju: kaos oblong, sandal: selop tipis, celana: jins, CD: tidak perlu dibahas <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Warna pudar karena lama tidak make wenter.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Fisik: Rambut: Merah kena panas matahari ala tukang bangunan, badan kurus kerontang ala para pengamal puasa Daud kalo berpikir positif. Atau ala orang Afrika kelaparan kalo berpikir humanis. Ala <em>junkish</em> kalo berpikir kriminal. Ala <em>Bohemian</em> kalo berpikir seni. Dan ternyata calon mertuaku melihat dari sisi medis, badanku seperti orang habis terkena gizi buruk.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Kamu serius mau nikah dengan dia” tanyanya dengan nada serius dari balik kamar ke istriku. Tampaknya, dahinya sedang mengernyit. “Badannya kurus dan tampaknya sering sakit-sakitan itu apa bisa mengurus dan menafkahimu? Terlihat sekali kalo badannya tidak kuat. Dan penampilannya. Apa kamu tidak ingin mencari cowok lain”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Tapi&#8230;.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Kalo kamu jatuh cinta lagi gimana? Ingat, menikah itu bukan main-main.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Iya&#8230;”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Mencari pasangan harus melihat dari bibit, bebet dan bobotnya. La la la la la la la.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Dan Allah, aku hanya ingin menghilang saat itu. Mengikuti arus bis menuju ke Jogja atau kemana pun. Dan semua pembicaraan itu sudah cukup untukku membuat kesimpulan. Mengapa manusia melihat dari fisik semata? Tak bisakah manusia lebih adil melihat manusia lainnya? Bukankah Allah menciptakan manusia untuk saling melengkapi, bukan untuk saling menghina? Bukankah, lepas dari penampilanku yang jauh dari meyakinkan sebagai seorang calon suami, aku juga manusia?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Sejuta pernyataan yang menggugat diskriminasi penampilan seseorang berjumul di kepalaku. Entah apa yang merasukiku, tiba-tiba aku seperti pembela kemanusiaan yang pintar membuat berjuta pertanyaan menggugah nurani seseorang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Mungkin cinta telah membawaku melintas alam sadar, bawah sadar dan alam lainnya (alam gaib) secara simultan dan berurutan. Persis, seperti saat kita melihat layar tancap. Dan gelisah sekali aku saat itu. Gaib sekali kekuatan cinta ini, apalagi jika diragukan. Saat diragukan, tiba-tiba Minke, tokoh karya om Pram, yang menggugat semua masyarakat yang hanya melihat semuanya hanya dari tampak luar datang memberiku semangat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Ayo, kawan buktikan kau mampu buktikan betapa kuat cintamu” pekik Minke membawa sederet kelabu kisah pulau buru.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Tetap perjuangkan cintamu, jangan seperti aku” kata Majnun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Yakinlah Allah punya solusi yang lebih baik, akhi” kata bang Fakhri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Keberanian adalah saat kita tahu kalah, tapi kita tetap maju dan menyelesaikannya” kata Atticus Finch tokoh rekaan Harper Lee.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“You will (achieve) when you believe” dendang Mariah Carey kemudian menyudahi pertempuran perasaan yang berkobar laksana pertempuran antara Hamas dan Israel. Dan kini, akulah penduduk Gaza. Dilempar sekian jauhnya, dan tampaknya pupus sudah harapanku untuk beristri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Tiba-tiba secara tak terduga, awan tiba-tiba menggumpal. Entah kenapa seperti semua suasana mengikuti suasana hatiku. Bahkan becak yang berlalu lalang entah kemana tampak seperti truk fuso yang dikendarai orang gendut dengan handuk pengusap peluh di leher yang hobinya membawa penumpang dari warung-warung remang-remang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Dan tiba-tiba ada suara kucing melengking yang seperti ditabrak bis kecepatan tinggi. Apa itu semua tanda buruk? Astaga mati naga mati. <em>Astaghfirullah</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Terkesiap, aku tersadar. Lamunku kemana-mana. Hampir habis sudah harapanku, kemudian tiba-tiba ayah mertua keluar. Sambil menyalami tanganku, beliau memasrahkan putrinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Tolong jaga dia. Bahagiakan dia. Aku tidak bisa membahagiakan pas kecil dulu. Kamu bisa kan menjaga amanah ini.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Dunia tiba-tiba berputar dengan gerakan cepat. Semua berubah menjadi cerah kembali. Allah memang Maha Kuasa, Maha Pemurah, Maha Pengasih yang sudah menciptakan manusia dengan ciptaan rancangan yang begitu sempurna. Sa la la la la. Tiba-tiba, semua becak menjadi begitu indah. Angin sepoi. Kursi yang awalnya seperti panas dan dialiri setrum listrik sehingga membuatku gelisah dan cemas akan kematian berubah menjadi empuk nan nyaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“Gimana? Jawab yang tegas sebagai seorang lelaki”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">“I&#8230;.ya pak” jawabku terkejut. Tampaknya, aku terlalu lama melamun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Dan akhirnya, aku lanjutkan nanti ceritanya&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonharyadi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonharyadi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonharyadi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonharyadi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonharyadi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonharyadi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonharyadi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonharyadi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonharyadi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonharyadi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonharyadi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonharyadi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonharyadi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonharyadi.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=45&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/12/aku-vs-mertuaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e56dce76ff01ec559ab21952e98cd85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonharyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengulang 24 Tahun Lalu</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/08/mengulang-24-tahun-lalu/</link>
		<comments>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/08/mengulang-24-tahun-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 13:09:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonharyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Kembali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/08/mengulang-24-tahun-lalu/</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang, aku sudah 24 tahun, dan menjadi ayah dari seorang anak yang sekarang sedang sakit dan jauh dari rumah. Dan aku merayakan ulang tahun malam ini. Jika ulang tahun berarti mengulang tahun, aku mengulang tahun malam ini dengan mengenang kedua ayah dan satu ibuku yang hebat-hebat itu. Mereka benar-benar hebat. Ah..jadi pengin nangis L.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=41&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Nun jauh di desa, seorang bapak bertubuh tirus layaknya pohon kelapa yang sudah lama menunggu anak tiba-tiba harus pontang-panting ke sana kemari. Kegelisahan dan kecemasan menyatu saat itu. Bertumpuk. Dia menghampiri istrinya yang kesakitan. Tampaknya, bayi yang ditunggunya akan segera lahir ke dunia. Kelahiran bayi ini merupakan momen istimewa, yang dinanti-nanti sejak lama dan sangat mendebarkan. Sudah tiga anaknya yang pernah dimiliknya, tapi tidak ada dalam waktu lama. Semuanya singkat.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan kini, harapannya sangat besar, meski dia sudah bersiap-siap untuk kecewa lagi. Kehilangan beberapa kali dalam hidup kadang membuat kita bisa memiliki tingkat kekebalan kekecewaan. Artinya, banyak kehilangan berarti membuat kita lebih bahagia, karena kita sudah terbiasa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan bapak itu sudah biasa merasakan kekecewaan ditinggal oleh anak yang sangat diinginkannya. Meski untuk anak yang akan dilahirkan ini, ia sudah banyak bersiap dan berharap dengan segenap do’a dan munajat yang dipanjatkan tanpa rasa lelah dan selalu sabar. Setiap malam, tak ada keinginan yang lebih besar ketimbang memiliki anak yang bisa hidup.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan hari itu, 24 tahun yang lalu, bapak itu tahu rasanya bagaimana getaran kecemasan membuat sendi-sendi tubuhnya berasa sedikit nyilu. Dan meski saat itu sakitnya tak tertahan dia tetap bertahan dan tersenyum penuh kesabaran, melihat wajah istri yang dicintainya, membayangkan anaknya yang lahir kelak, dan melihat anaknya tumbuh dan besar menjadi orang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sekilas kemudian, dia menyiapkan sepeda untuk menjemput spesialis obstetri dan ginekologi yang bertugas membantu persalinan istri bapak tersebut. Spesialis itu sangat kesohor di desanya, lantaran spesialis itu juga bisa sedikit ilmu pertulangan atau ortopedi hasil didikan alam yang lebih humanis dari edisi peredaran dokter nan canggih yang sudah tidak mengenal manusia yang sekarang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dalam kegelapan malam, bapak itu tidak merasakan bagaimana angin malam hampir merobohkan tubuh tirusnya. Dia terus saja mengayuh, bercampur ketakutan dan kecemasan, juga harapan mudah-mudahan anak yang akan lahir nanti bisa hidup dan melanjutkan tetirah genealogis keluarga. Dan mudah-mudahan anak itu bisa menjadi penopang keluarga dalam arti seluas-luasnya. Batuk, sesak nafas, dan remuk dada tak bisa menghentikannya. Bahkan, TBC yang sudah mengendap itu tak pula menghancurkan harapannya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan akhirnya spesialis <em>obgyn </em>atau bahasa desanya dukun beranak itu bisa dibawa ke rumah untuk membantu kelahiran si bayi. Dan keras kepalanya, bayi itu tidak mau keluar meski ibunya sudah berusaha menghela dan mengeluarkan nafas dalam porsi teratur.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tiba pada jam 11 Malam, lahirlah sebuah bayi mungil berjenis kelamin laki-laki, kelihatan masih merah dan tak tahu akan jadi apa, menangis dengan sangat keras. Dan itulah bayi, saat keluar menangis, dan semua orang tertawa bahagia. Dan harapan bapak itu, jika saatnya bayi itu harus meninggalkan dunia, mudah-mudahan dia bisa tertawa dan orang di sekitarnya menangis. Artinya, dia bisa membawa bapak itu ke Surga.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan tahukah dirimu Kawan, bayi itu adalah aku, dua puluh empat tahun yang lalu. Sudah lama memang, dan aku masih belum bisa mengingat sekilas wajah ayahku pun, selain yang aku lihat di foto lama hitam putihnya. Kata orang setelah aku beranjak dewasa, ayah orangnya ganteng dan baik hati. Saat dia bisa membeli sepeda motor, dia mengajak ki Maden, seorang tua tuna netra di tempatku, untuk membeli soto, harapan besarnya. Sampai sekarang, ki Maden mengingat dan menceritakannya seakan bapakku masih hidup di dunia. Saat bercerita, mata ki Maden berkaca-kaca. Begitu juga mbah sebelah rumah bapak. Semua orang mengingatnya dengan kenangan terbaik.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan tahukah kau siapa ibuku? Ibuku adalah orang terbaik di dunia, menurutku. Beliau selalu sabar merawat ayah yang sudah lama mengidap penyakit TBC. Tak peduli malam atau siang, ibu selalu ada. Setia mendampingi ayah yang sekian lama seperti sudah tak bisa melanjutkan hidup. Semua jenis pengobatan mulai dari yang modern hingga tradisional, ibu mau menjalaninya. Bahkan sejauh kaki masih bisa melangkah, ibu akan mencari obat itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Delapan bulan kemudian, setelah bapak sudah bisa menikmati dan merasakan tangisanku yang semakin lama tak kunjung reda, cerita ibuku, ayahku meninggalkan dunia dengan sejuta laksa kenangan yang tak mampu ku ukir. Dan aku, masih tidak bisa mengingat semuanya, karena aku masih kecil saat itu. Aku masih berumur delapan bulan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ibu yang terlampau memikirkanku akhirnya menikah lagi dengan seorang duda tanpa anak. Awalnya, ibu takut dan terus berharap orang itu akan baik. Dan ternyata memang baik. Bapak, panggilanku sekarang terhadap beliau, menganggapku seperti anaknya, Akulah anak pertamanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan seperti cerita banyak orang, aku termasuk beruntung karena mempunyai bapak (aku tidak mau menganggap bapakku ini tiri, karena tiri selalu negatif) yang super baik. Sebagai perbandingan begini, setiap ayah di tempatku selalu ingin anaknya bekerja membantu ayahnya di sawah, tapi bapakku tidak. Tak jarang beliau melarangku membantunya, meski aku tak bisa kalau tidak membantu beliau.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Mungkin ini yang selalu membengkas dalam jiwaku kini, apa artinya ayah biologis dan tidak biologis jika keduanya sama-sama mencintai dan menyayangi kita tulus dan ikhlas. Dan itulah bapakku, keduanya. Mereka sama-sama mau berkorban. Ayah pertamaku berkorban banyak waktu untuk berdo’a agar aku hidup dan aku hidup hingga kini. Ayah keduaku berkorban bahkan masa-masa awal indah pernikahannya dengan ibuku. Dan banyak lagi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bagiku, ayah biologis dan psikologisku sama berperan memberi ruang indah dalam hidup. Keduanya selalu membuatku ingin mendengar lagu ayah, bapak, papa dan father. Dan setiap kali aku mendengar lagu-lagu bapak, aku selalu ingin meneteskan air mata. Keduanya adalah inspirasi tiada henti.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sekarang, aku sudah 24 tahun, dan menjadi ayah dari seorang anak yang sekarang sedang sakit dan jauh dari rumah. Dan aku merayakan ulang tahun malam ini. Jika ulang tahun berarti mengulang tahun, aku mengulang tahun malam ini dengan mengenang kedua ayah dan satu ibuku yang hebat-hebat itu. Mereka benar-benar hebat. Ah..jadi pengin nangis <span style="font-family:Wingdings;"><span>L</span></span>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonharyadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonharyadi.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonharyadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonharyadi.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonharyadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonharyadi.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonharyadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonharyadi.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonharyadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonharyadi.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonharyadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonharyadi.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonharyadi.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonharyadi.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=41&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/08/mengulang-24-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e56dce76ff01ec559ab21952e98cd85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonharyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidup Bak Komedi Putar</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/06/hidup-bak-komedi-putar/</link>
		<comments>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/06/hidup-bak-komedi-putar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 15:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonharyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonharyadi.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Bagi saya sekarang, hidup seperti sebuah perjalanan terus menerus berputar dalam pusaran yang sama mirip komedi putar. Ia terus berputar, sampai waktu kita untuk turun tiba. Dan waktu turun adalah waktu yang sama dengan waktu yang ditunjukkan dalam karcis kita. Bedanya, karcis hidup diberikan, bukan dibeli. Sama, dalam komedi putar kita tidak bisa memilih menaiki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=39&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Bagi saya sekarang, hidup seperti sebuah perjalanan terus menerus berputar dalam pusaran yang sama mirip komedi putar. Ia terus berputar, sampai waktu kita untuk turun tiba. Dan waktu turun adalah waktu yang sama dengan waktu yang ditunjukkan dalam karcis kita. Bedanya, karcis hidup diberikan, bukan dibeli.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Sama, dalam komedi putar kita tidak bisa memilih menaiki keranjang yang kita inginkan. Kita hanya mengikuti instruksi penjaganya. Itulah kesimpulan dari peristiwa magis, yang seandainya tidak direnungkan hanya akan menjadi peristiwa lalu tanpa makna.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">25 Desember 2008 kemarin, saya diberi berkah membeli sepeda gunung di kota Malang. Saking bersemangatnya, saya lupa banyak hal. Saya hanya ingat bahwa jika ada yang lebih membahagiakan ketimbang bisa mendapatkan keinginan menahun itu, maka hal itu pasti sangat hebat, seperti bertemu Nabi Muhammad dalam sub-sadar dan bertemu Allah di surga nan tak terbayang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Sepeda gunung bagi saya lebih dari sekedar sepeda biasa, yang tak punya arti apa-apa. Sepeda gunung, dalam relung tak sadar saya, seperti sebuah pembalasan dendam akan keinginan yang terpendam karena ketidakmampuan masa lalu mewujudkan keinginan itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Saat kecil, saya pernah sangat ingin mempunyai sepeda gunung yang dalam bayangan masa kecil lebih indah bahkan dari pelangi yang berpendar mengikuti gerimis siang. Saat melihat sepeda gunung, saya seperti melihat seorang bidadari. Dalam term teknis, saya mengalami <em>obsesif kompulsif</em>. Dalam istilah saya yang sederhana, pengertiannya adalah jika kita menginginkan sesuatu dengan seingin-inginnya, tapi kita tidak bisa memiliki dan melakukannya, dan kita simpan keinginan itu dengan sangat kuat, namun selalu meluap-luap untuk diwujudkan, itulah obsesif kompulsif. Menurut Andrea, saya mungkin mengalami penyakit gila nomor 13, tergila-gila pada suatu objek.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Makanya, saat saya dewasa, saya selalu menoleh setiap kali melihat sepeda gunung, entah sepeda gunung itu jelek atau bagus, polygon stiker atau polygon asli. Respons itu mungkin tidak masuk akal bagi kebanyakan kita. Saya pun merasa aneh. Akhirnya, saya bisa menjelaskannya dalam rentang masa lalu melalui kaca mata psikologis masa kecil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Anehnya, kehidupan saya selalu aneh Saudara, respons saya ketika bisa membeli sepeda itu aneh. Aneh lagi. Saya lebih senang melihat sepeda saya, ketimbang menaikinya. Setiap kali lewat di samping sepeda, saya selalu menatapnya lekat-lekat. Bahkan, ketika awal-awal saya menaiki sepeda itu, jantung saya berdegup kencang seperti bertemu dengan kekasih masa kecil yang sekarang kembali dalam hidup dan ternyata jauh lebih cantik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Peristiwa ini mengingatkan saya akan nasihat guru-guru SD dulu “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.” “Siapa tahu akan tercapai” lanjut guru ngaji saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Sampai kemarin, saya masih bingung mengapa kita harus punya cita-cita saat kecil, yang bahkan jauh di atas kenyataan. Di rumah saya di desa, banyak anak dukun beranak ingin menjadi dokter kandungan. Banyak anak tukang becak ingin menjadi sopir pesawat, pilot maksud saya. Mengapa kita harus punya cita-cita yang mustahil tercapai?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Saya baru paham hari ini, bahwa cita-cita dan keinginan masa kecil kita akan selalu terpendam di hati dan di alam bawah sadar dan akan selalu menuntut untuk diwujudkan. Keinginan itu akan berubah menjadi motivasi dan tekad bulat. Dan jika kita sudah berkeinginan kuat dan bertekad bulat, seluruh semesta akan mendukung. Saya jadi ingat konsep <em>Mestakung </em>dalam fisika menurut Prof Yohanes Surya. Atau Paulo Coelho dalam <em>The Alchemist.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Lebih lanjut, konon apa pun yang kita inginkan terkait dengan apa yang diinginkan orang tua saat kita sedang dikandung badan dulu. Contoh sederhananya, anak (bayi) saya sekarang sangat tergila-gila pada sepeda motor, yang kalau dirunut berasal dari keinginan ibunya untuk selalu jalan-jalan naik sepeda motor saat mengandungnya. Tidak ilmiah memang penjelasan seperti ini, sebab saya tidak punya bukti ilmiah yang menyokong pendapat ini. Tapi bisa jadi kan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Saat di kandungan dulu, saya dan istri sangat benci dokter spesialis kandungan yang tidak pernah melihat kemampuan orang untuk membayar jasanya. Saya dan istri bermimpi saat itu agar jika dewasa nanti anak saya mau dan berusaha menjadi dokter spesialis yang humanis yang tidak memungut bayaran kepada orang miskin, atau jika memungut bayaran seikhlasnya saja. Apa anak saya akan menjadi&#8230;?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Alah sudahlah, anak saya lebih suka naik sepeda motor sekarang, jadi apa pun dia yang jelas dia akan mengikuti panggilan keinginan masa kecilnya. Saya ingin sepeda gunung, dan saya dapatkan itu sekarang. Dia sekarang suka sekali dengan sepeda motor, dan mungkin dia&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;">Jelaslah sekarang, hidup dan cara kita memandang hidup dipengaruhi bagaimana alam tak sadar masa kecil kita. Masa kecil itu dipengaruhi oleh orang tua dan lingkungan. Orang tua dan lingkungan dipengaruhi oleh orang tuanya dulu. Jadi, hidup memang seperti komedi putar, bukan?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonharyadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonharyadi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonharyadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonharyadi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonharyadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonharyadi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonharyadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonharyadi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonharyadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonharyadi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonharyadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonharyadi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonharyadi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonharyadi.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=39&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/06/hidup-bak-komedi-putar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e56dce76ff01ec559ab21952e98cd85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonharyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gadis Cemara Rupa-Rupa yang Rapuh</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/05/silakan-pilih-judul-sendiri/</link>
		<comments>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/05/silakan-pilih-judul-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 14:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonharyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah teman-temanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonharyadi.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Saya tak bisa berbuat apa-apa, karena dia juga tak mau bercerita yang sebenarnya. Cerita di atas ini adalah cerita yang saya kontruksi berdasarkan segurat kisah di wajahnya, di senyumnya dan di tangisnya. Semuanya tergambar jelas di sana, entah kenapa banyak yang tidak melihat. Dia masih saja menyimpan rahasianya, bahkan kepada hati yang baru. Rahasia itu masih tertahan di dalam hatinya, di sana, jauh di dalam hatinya bahwa ada sebuah kisah yang ingin dia gambarkan, kisah itu bernama “kisah gadis cemara rupa-rupa yang rapuh.”<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=30&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Setelah berkonsultasi, judul ini akhirnya dipilih karena merepresentasikan semua isi pikiran dari tulisan ini. Tulisan ini saya persembahan untuk dia, gadis rapuh serupa pohon cemara rupa-rupa yang mencoba kuat menahan hembus angin tak ramah akhir-akhir ini dan dia mencoba tersenyum dengan kecut dan asam yang mengalahkan cuka.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Cerita ini bermula tahun 1897 atau 1798, ketika dia secara tak sadar menjadi anak salah satu pasangan yang sedang dimabuk asmara. Sebagai anak pertama, dunia selalu lebih indah dari biasanya. Dimanja, dibahagia, diharap dan dicemas menjadi kumpulan kenangan yang seakan memberi keteduhan untuk selamanya. Dan itulah indahnya menjadi anak pertama. Seandainya hidup selalu seperti itu…</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Namun, hidup tak selamanya seperti cerita putri tidur yang hanya perlu tidur untuk mendapatkan pangeran rupawan bersenjatakan pedang dengan kuda gagahnya. Hidup adalah serial tak terduga antara duka dan suka. Hidup indah pertama kali itu berubah seketika saat adik-adiknya lahir, terus bertambah. Tiba-tiba semuanya jadi berubah. Dia jadi tidak punya banyak waktu untuk dirinya sendiri. Dan selalu mengalah akhirnya membuatnya selalu kalah, demikian pikirnya, meski harus selalu bersikap gagah karena dia adalah anak pertama.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dia menghadapi kenyataan itu dengan pahit tanpa sadar. Tanpa memilih, dia harus menghadapi kenyataan hidup yang sudah merampas kebahagiaannya. Kenyataan pahit harus dikecap bahwa kini dia harus berusaha mengorbankan apa pun demi adik-adiknya, demi keluarganya. Dan seketika itu, rumah tidak lagi menjadi tempat berteduh dari mara bahaya luar sana. Rumah lebih seperti sebuah rangkaian tuntutan dimana dia menjadi si tertuntut.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Untungnya, ada beberapa hal yang membuatnya bisa bertahan sekian lama. Senyum ibu, wajah ayah dan tawa adik-adiknya menjadi penguat kesekian dari seluruh benteng yang dia buat agar dia bisa bertahan. Mengalami diskriminasi karena kondisi keuangannya di sekolah sudah dia rasakan betul pahitnya. Menjadi tidak kaya di golongan orang kaya kadang membuatnya harus mencegah beberapa keinginan dan mengompresinya menjadi sebuah mimpi. Mimpi yang tidak tahu kapan akan menjadi nyata menghiasi kesekian bagian dalam hidup dan membuatnya bisa mengerti bagaimana cara menjadi tidak ingin meski sangat ingin. Saat itulah, dia bisa bersandiwara.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Lebih menyedihkan lagi, pernah dia merasakan sangat perih karena pada suatu saat adiknya tidak bisa melanjutkan sekolah gara-gara tidak bisa membayar SPP. Kondisi ketidakmampuan ekonomi membuatnya merasa sedih dan bersalah di saat bersamaan. Dia bisa meneruskan sekolah sampai perguruan tinggi, sementara adiknya harus putus di tengah jalan. Dan yang paling perih dari segalanya, dia tidak bisa melakukan apa-apa saat itu. Satu babak lagi, dia harus kecewa. Belum pada suatu saat ibunya sakit, namun ibunya menahan sakit itu agar anak-anaknya bahagia.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Pada satu titik itu, dia merasa jatuh. Belum saat dia tahu, ternyata rumah yang sudah ditempatinya bertahun-tahun harus ditinggalkan karena ada sengketa. Intinya, dia harus berruwet-ruwet kesana kemari mencari bantuan dan mencari tempat berteduh baru.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Diterpa semua kegetiran hidup membuatnya berubah-ubah. Dari seorang ceria yang bisa membawa suasana bahagia dengan satu langkah kecil, dia sekarang lebih sering diam, meski ingin berkata seribu kata. Dari orang yang blak-blakan, dia menjadi pendiam yang lebih banyak menyelidik dan waspada. Dan itulah awal mulanya, latar belakang pahit keluarga membuatnya mengalami sebuah gejala kejiwaan yang sebenarnya tidak akut, namun cukup mengkhawatirkan. Nama gejalanya, <em>split personality.</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Gejala ini muncul pertama kali saat dia memendam kekesalan membuncah gara-gara memiliki adik. Lama-kelamaan, dia menjadi terbiasa dan merasakan semuanya sebagai sebuah kewajaran. Memang terkesan biasa, tapi kekesalan itu terus bertumpuk di alam bawah sadar. Adiknya terus bertambah dan bertambah. Dan kekesalan terhadap semuanya semakin terkikis.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Hingga pada satu ketika, pukulan terberatnya, banyak adiknya yang dia lindungi dengan segenap tenaga dan usaha tidak bisa mendapatkan keinginan mereka yang mungkin paling sederhana sekali pun, bersekolah. Padahal, untuk adik-adiknya itu, dia sudah banyak mengorbankan emosi dan kebahagiaan, dan dia sekarang ada di tengah pusaran masalah itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kadang, sesekali dia ingin berteriak pada dunia yang sudah begitu tidak adil terhadap keluarganya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia, bahkan di usianya yang sangat muda, sudah berusaha keras membantu orang tua dengan bekerja. Dia sudah banyak mengorbankan keinginannya sendiri untuk keluarga, ayah ibu dan adik-adiknya, tapi belum banyak yang bisa diperbuat. Akhirnya, kecewa menjadi sahabatnya paling akrab.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dan kini, dia berusaha menyembunyikan semua kisah ini sendiri. Ada sebuncah emosi yang meletup-letup tak tahu kemana akan keluar, namun sekali lagi dia tak tahu harus bercerita kepada siapa-siapa. Pernah dia bercerita dan punya tempat berbagi paling nyaman di dunia, saat di SMU saat dia merasa jatuh cinta. Dia mencintainya dengan sepenuh hati, namun keduanya harus terpisah sesuatu, yang juga tidak diketahui alasannya. Dan dia enggan sekarang bercerita. Dia takut kecewa. Biarlah cerita ini dia pegang sendiri seumur hidup.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sekarang, dia punya tempat baru, di hati orang yang menurutnya ia cintai dengan sepenuh hati, namun belum dipercayainya dengan seutuhnya. Ada berjuta tembok yang menghalanginya untuk mencintainya sepenuh raga dan jiwa. Dan ia berjuang menembus tembok itu. Baginya, tempat baru itu belum mampu membawanya melepas semua beban. Entah, ada sesuatu tak terjelaskan yang membuatnya tidak bisa membuka kebekuan yang sudah lama ada di hatinya, dia hanya gadis rapuh yang tak tahu kenapa harus berusaha tegar. Meski baginya, tegar kadang menyakitkan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Saya tak bisa berbuat apa-apa, karena dia juga tak mau bercerita yang sebenarnya. Cerita di atas ini adalah cerita yang saya kontruksi berdasarkan segurat kisah di wajahnya, di senyumnya dan di tangisnya. Semuanya tergambar jelas di sana, entah kenapa banyak yang tidak melihat. Dia masih saja menyimpan rahasianya, bahkan kepada hati yang baru. Rahasia itu masih tertahan di dalam hatinya, di sana, jauh di dalam hatinya bahwa ada sebuah kisah yang ingin dia gambarkan, kisah itu bernama “kisah gadis cemara rupa-rupa yang rapuh.”</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kisah ini saya ungkapkan agar dia merasa ada seseorang yang memahami seberapa pun ditutupi. Akan saya lanjutkan kalo dia mengizinkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonharyadi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonharyadi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonharyadi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonharyadi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonharyadi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonharyadi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonharyadi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonharyadi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonharyadi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonharyadi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonharyadi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonharyadi.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonharyadi.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonharyadi.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=30&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/05/silakan-pilih-judul-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e56dce76ff01ec559ab21952e98cd85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonharyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guruku adalah Anakku (Bagian III)</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/02/guruku-adalah-anakku-bagian-iii/</link>
		<comments>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/02/guruku-adalah-anakku-bagian-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 08:17:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonharyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonharyadi.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari ini, anak saya batuk. Batuk agak berdahak yang membuat saya lumayan khawatir. Jika Anda menyarankan saya untuk membawanya ke dokter, terima kasih atas sarannya. Dan saya sudah membawanya ke sana. &#8220;Kasihan, masih kecil sudah sering sakit&#8221; kata dokter saat itu. &#8220;Iya, dok.&#8221; &#8220;Saya kasih vitamin saja. Kasihan tubuhnya belum terlalu kuat kalo harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=28&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari ini, anak saya batuk. Batuk agak berdahak yang membuat saya lumayan khawatir. Jika Anda menyarankan saya untuk membawanya ke dokter, terima kasih atas sarannya. Dan saya sudah membawanya ke sana.</p>
<p>&#8220;Kasihan, masih kecil sudah sering sakit&#8221; kata dokter saat itu.<br />
&#8220;Iya, dok.&#8221;<br />
&#8220;Saya kasih vitamin saja. Kasihan tubuhnya belum terlalu kuat kalo harus sering minum obat.&#8221;</p>
<p>Kami pun pulang dengan satu pikiran. Banyak obat itu tidak terlalu bagus untuk perkembangan anak saya. Tapi bagaimana lagi, tanpa konsultasi ke dokter dan dokter selalu memberi resep obat, kami akan sangat khawatir sekali. Terus terang, kami lebih khawatir daripada anak kami sendiri sepertinya. Maklum karena dia belum bisa ngomong apa-apa.</p>
<p>Anak kami, seperti halnya biasanya, lebih bijak dari pada kami. Dia santai saja. Meski dia yang batuk dan sering terganggu tidurnya, dia jarang khawatir dan cemas. Dan itulah anak. Hebatnya, mereka jarang khawatir dan cemas, meski tindakan mereka membuat orang tuanya siak-siak.</p>
<p>Itulah yang ternyata sering terjadi di kehidupan kita. Orang tua lebih keukeuh dan lebih cemas mempersiapkan masa depan lebih dari kita sendiri. Bahkan tak jarang mereka memaksa, tapi perlu tahu apa yang diinginkan anaknya. Otoriter memang kebanyakan orang tua. Dan jika Anda salah satu korbannya, perlu Anda yakini satu hal, Anda tidak sendiri.</p>
<p>Saya juga begitu, pernah begitu, meski ibu menggunakan cara berbeda dengan orang tua lain. Suatu saat, saya males bangun pagi untuk sekolah. Alih-alih marah dan memaksa saya sekolah, ibu langsung mengambil buku-buku saya. Dibawanya serta korek beserta minyak tanah. Diajaknya saya ke depan rumah.</p>
<p>&#8220;Kalo nggak mau sekolah, nggak usah sekolah saja sekalian. Aku bakar buku-bukunya.&#8221; kata ibu dengan tegas.<br />
Aku ambil buku-buku itu dan aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk bersiap sekolah. Sejak saat itu, saya selalu rajin sekolah. Saya takut ibu membakar buku saya.</p>
<p>Saya tidak ingin anak saya begitu. Saya ingin membebaskannya dari tuntutan menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan saya. Cukuplah dia menjadi anak saya, yang mudah-mudahan mau berbakti kepada Tuhannya, Orangtuanya, dan Idealismenya.</p>
<p>Sekarang anak saya suka pada satu benda sakral. Sepeda motor. Dia tidak bisa berkutik kalo diajak naik sepeda motor. Maunya selalu naik motor saja. Di dunia, tidak ada yang lebih indah dari sepeda motor, terkecuali susu ibu tentunya. Tangis berganti senyum seketika saat dia naik sepeda motor. Sepertinya, meski saya tidak punya otoritas moral dan ilmiah untuk menjelaskan, anak saya ketularan hobi ibunya ketika hamil, ingin selalu naik sepeda motor.</p>
<p>Melihat semua itu, saya berdo&#8217;a dengan sangat berharap meski sedikit cemburu dibuatnya &#8220;mudah-mudahan istri saya suka pada dokter saat hamil, siapa tahu anak saya jadi&#8230;:D&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonharyadi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonharyadi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonharyadi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonharyadi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonharyadi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonharyadi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonharyadi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonharyadi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonharyadi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonharyadi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonharyadi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonharyadi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonharyadi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonharyadi.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=28&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonharyadi.wordpress.com/2009/01/02/guruku-adalah-anakku-bagian-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e56dce76ff01ec559ab21952e98cd85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonharyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guruku adalah Anakku (Bagian II)</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com/2008/12/28/guruku-adalah-anakku-bagian-ii/</link>
		<comments>http://antonharyadi.wordpress.com/2008/12/28/guruku-adalah-anakku-bagian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2008 06:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonharyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaranku hari ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonharyadi.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Aduh! Gawat! Anakku kini sudah berumur hampir sembilan bulan. Anehnya dia belum bisa merangkak dan bahkan belum bisa duduk sendiri. Dalam beberapa kesempatan, dia tidak pernah mau belajar. Dan inginnya, ia langsung berdiri dan berlari seperti halnya orang yang sudah lebih besar darinya. Aku hanya bisa terdiam saat ditanya anakku sudah bisa apa. Terus terang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=24&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Aduh! Gawat! Anakku kini sudah berumur hampir sembilan bulan. Anehnya dia belum bisa merangkak dan bahkan belum bisa duduk sendiri. Dalam beberapa kesempatan, dia tidak pernah mau belajar. Dan inginnya, ia langsung berdiri dan berlari seperti halnya orang yang sudah lebih besar darinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Aku hanya bisa terdiam saat ditanya anakku sudah bisa apa. Terus terang, aku agak malu karena anak seumurnya sudah bisa merangkak dan bahkan ada yang sudah belajar berdiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Dan anakku….</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dia hanya bisa bermimpi berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal">“Aduh gimana ini mas?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Emboh</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Anak lain sudah bisa jalan”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“Ya, sudah. Yang penting anak kita sehat&#8221; sergahku segera untuk menyudahi siaran berita istriku tentang bagaimana nasib anakku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pagi ini, anakku belajar mengangkat tubuhnya seperti halnya orang yang sedang push-up. Dia terlihat berusaha sangat keras. Sebentar-sebentar, ia menjatuhkan tubuhnya. Sepertinya dia kelelahan. Sebentar kemudian, dia bangun kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Sesaat kemudian dia melihatku dan tersenyum. Kemudian, salah satu jurus andalannya keluar. Wajah melas. Tatapannya meluluhkan hatiku, Dan ku gendong dia. Ku bawa ke sana, ke mari. Aku sangat menyayanginya. Sebagai anakku. Sebagai buah cintaku. Sebagai amanat dari Tuhanku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Dan sesaat itu aku sadar bahwa aku tidak benar-benar mencintai anakku dengan setulus-tulusnya. Tuntutan dan perbandingan membuatku buta akan kemampuan aslinya. Keinginan memiliki anak yang tumbuh sempurna tanpa kekurangan membuatku tak bisa berpikir jernih. Selama aku ingin sempurna dan menuntut, selama itu pula aku tidak akan pernah menyayangi seseorang dengan seutuhnya dan seikhlasnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Aku terdiam kemudian. Teringat sebuah kalimat bijak “kesempurnaan seorang manusia adalah usaha terbaiknya.” Anakku sudah menunjukkan usaha terbaiknya, tapi aku masih menuntutnya. Allah pun tidak memintanya tumbuh begitu, padahal Allah yang menciptakannya. Lalu, mengapa aku melebihi Allah?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Hah, anakku, engkau benar-benar banyak mengajariku. Entah apa lagi yang akan kau ajarkan tentang cinta dan kehidupan, aku akan selalu siap belajar. Belajar hidup dan mencintai dengan tulus dan ikhlas tanpa menuntut dan memperbandingkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonharyadi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonharyadi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonharyadi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonharyadi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonharyadi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonharyadi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonharyadi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonharyadi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonharyadi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonharyadi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonharyadi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonharyadi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonharyadi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonharyadi.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=24&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonharyadi.wordpress.com/2008/12/28/guruku-adalah-anakku-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e56dce76ff01ec559ab21952e98cd85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonharyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guruku adalah Anakku</title>
		<link>http://antonharyadi.wordpress.com/2008/12/27/guruku-adalah-anakku/</link>
		<comments>http://antonharyadi.wordpress.com/2008/12/27/guruku-adalah-anakku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 15:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonharyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelajaranku hari ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonharyadi.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang bilang, kita harus mengajari anak kita tentang cara hidup. Dan saya mengalami sebaliknya: anak saya itu banyak mengajari saya tentang cara hidup.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=21&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang bilang, kita harus mengajari anak kita tentang cara hidup. Dan saya mengalami sebaliknya: anak saya itu banyak mengajari saya tentang cara hidup.</p>
<p>Pertama, hanya perlu tersenyum untuk membahagiakan orang lain. Setiap ada yang menyapa, anak saya langsung memberikan senyum terbaiknya. Hampir, di setiap ada acara kumpul-kumpul, dia menjadi pusat perhatian dan pusat kebahagiaan orang-orang. Di sekitar rumah saya sekarang, anak saya lebih populer dari ayahnya. Banyak yang tahu saya dari anak saya itu. Saya diajari bahwa tidak butuh banyak uang untuk membahagiakan orang lain, hanya perlu tersenyum tulus. Dan orang lain pun akan bahagia.</p>
<p>Kedua, kita hanya perlu hidup hari ini. Anak saya tidak pernah mengingat masa lalu dan mencemaskan masa depan. Dia tidak pernah takut saya akan meninggalkannya menjadi yatim piatu seperti ayah kandung saya meninggalkan saya. Kebanyakan kita mengingat hari kemarin dan mencemaskan esok hari sehingga kita tidak bisa menikmati hari ini. Kita dirantai masa lalu, dan diseret masa depan. Bahagia akhirnya sirna bersama fajar. Untuk bahagia, kata senyumnya, kita perlu melupakan kemarin dan berhenti mencemaskan masa depan. Kita hanya perlu hidup terbaik hari ini. Hari ini saja kita hidup dengan cara terbaik.</p>
<p>Ketiga, berhentilah melihat seseorang dari penampilannya. Seperti yang saya ceritakan tentang senyumnya, dia tidak pernah memilih orang yang dia beri senyum. Tetangga saya, namanya cak Teong, memiliki cacat permanen di sekitar kaki. Banyak yang takut dengan cak Teong dan berprasangka buruk. Setiap pagi, cak Teong selalu diberi senyum menarik oleh anak saya itu. Pada suatu saat, dua hari dia tidak bertemu dengan anak saya, dan dia ke rumah beberapa kali untuk mengetahui kondisi anak saya.</p>
<p>Keempat, jangan pernah menyalahkan orang lain dan cepatlah maafkan orang lain. Karena kelalaian saya, anak saya yang sudah mulai lincah dan selalu bereksperimen dengan sekitar, terguling dan terjatuh. Dia menangis. Ibunya panik dan mulai menyalahkan saya. Sejenak kemudian, anak tersenyum manis kembali. Dia tidak menyalahkan saya atas kelalaian saya dan memaafkan saya saat itu juga. Dia hanya tersenyum. Dan senyumnya mengatakan “Ayah, jaga aku dengan sepenuh hatimu. Dan aku akan senyum dengan sepenuh hatiku.” Dan di lubuk sanubari, saya akan menjaganya sebagai amanah Tuhan dengan sebaik mungkin, bukan sebagai milik saya. Ia mungkin tahu, saya sudah menjaganya dengan maksimal.</p>
<p>Kelima, jangan pernah menuntut seseorang. Sebagai kepala keluarga, saya harus bekerja. Pada masa puncak, kadang saya tidak bisa menemani anak saya itu saking sibuknya bekerja. Dan istri saya marah-marah. Sebagai seorang bijak, anak saya itu hanya tersenyum dengan senyuman terbaiknya. Dan mungkin Anda sudah tahu apa yang saya lakukan, saya matikan komputer untuk bermain-main dengannya. Itulah masa indah dengan penuh canda tawa. Dan dia mengajari saya, tidak perlulah kita menuntut seseorang, kita hanya perlu menariknya dengan senyuman.</p>
<p>Keenam, tidak ada yang suka dengan pencemberut dan pemarah. Kita pun tidak suka dengan pencemberut dan pemarah. Sayangnya kita sering cemberut dan marah. Teman saya punya seorang anak yang kemampuannya melebihi anak seusianya. Pintar memang. Kelemahannya cuma satu, dia jarang senyum. Dan tidak ada orang yang suka dengan anak itu.</p>
<p>Itulah pelajaran yang diberikan anak saya. Sekarang dia beranjak dewasa, usianya mencapai 9 bulan. Dia memang tidak sempurna. Dia baru bisa duduk dan merangkak, ketinggalan jauh dengan teman-teman seusianya. Tapi saya bangga, di usia sekecil itu dia sudah menjadi bijak dengan senyumnya. Meski belum bisa berkata barang sepatah kata, dia sudah bijak sekali. Atau mungkin, tidak perlu banyak kata untuk menjadi bijak. Mungkin saja!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonharyadi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonharyadi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonharyadi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonharyadi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonharyadi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonharyadi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonharyadi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonharyadi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonharyadi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonharyadi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonharyadi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonharyadi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonharyadi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonharyadi.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonharyadi.wordpress.com&amp;blog=2429641&amp;post=21&amp;subd=antonharyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonharyadi.wordpress.com/2008/12/27/guruku-adalah-anakku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e56dce76ff01ec559ab21952e98cd85?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonharyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
